Mengurus Skripsi

453 Views

MENGURUS SKRIPSI
Oleh : Ruslan Husen

“Saya yakin dalam waktu satu minggu ini, proposal skripsi ini akan selesai,” kataku mantap pada Iwan, teman satu kamar kos.

“Iya, mudah-mudahan saja. Tetapi agak susah, karena saya sudah membuktikan dan mengalami sendiri. Urusan di Fakultas, berbelit-belit dan prosedur layanan administrasi yang lama,” kata Iwan pesimis.

“Semoga tidak terjadi dengan urusanku, Wan. Kenyataan dipersulit, dengan prosedur layanan yang lama tidak terjadi,” harapku.

Sambil meneguk minuman dingin, “Tetapi jika harus menghadapi prosedur layanan yang panjang, saya akan hadapi dan jadikan sebagai sejarah hidup,” kataku optimis.

Saat ini, kami sudah berada di semester akhir perkuliahan dan sudah mulai konsentrasi pada penyusunan proposal skripsi, dengan harapan dapat wisuda dan memperoleh gelar sarjana tahun ini.

Dengan persiapan administrasi yang lengkap, berhubungan dengan pengajuan judul proposal ke ketua bagian di fakultas, aku terus meyakinkan diri akan menyelesaikan proposal minggu ini.

Konon saya ini di kenal sibuk. Kurang waktu dalam persoalan akademik. Namun dalam beberapa hari ini, kesibukan saya di HMI saya tinggalkan dan konsentrasi pada kegiatan mengurus skripsi. Hitung-hitung sebagaimana perwujudan harapan orang tua untuk cepat memperoleh gelar sarjana dan mendapat penghasilan kerja.

* * *

Waktu mendekati sholat Zuhur. Tetapi yang di tunggu yaitu ketua bagian fakultas tidak juga kunjung tiba. Untuk mengurangi rasa kecewa, saya dekati teman sekelas dengan berbincang persoalan yang menyenangkan. Kira-kira mengurangi rasa bosan dan melupakan kecewa di hati.

“Sepertinya ketua bagian fakultas tidak naik kampus hari ini,” tebakku dalam hati.

Setelah lama menunggu, aku berkeinginan pulang. Apalagi situasi pengajaran, tempat pegawai dan dosen mulai sunyi, dari tadi beberapa pegawai dan dosen sudah pulang.

Akhirnya, saya putuskan pulang, dengan besok datang lagu untuk keperluan yang sama.

Esok hari. Kenyataan itu terjadi lagi. Ketua bagian fakultas tidak kunjung datang. Kali ini bukan saya sendiri yang ingin bertemu dengan ketua bagian fakultas itu, tetapi beberapa orang teman juga mempunyai keperluan yang sama.

Rasa kecewa kembali terjadi pada kami dengan tidak bertemu dengan ketua bagian fakultas. Tapi hanya ini yang bisa kami lakukan, tidak bisa mengadu kepada pimpinan fakultas, ketua bagian yang lain atau ke dosen-dosen yang lain.

Hanya ketua bagian fakultas itulah yang memiliki wewenang untuk mengesahkan judul proposal yang kami usulkan.

Akhirnya kami putuskan mendatangi rumah kediaman ketua bagian fakultas itu. Dengan harapan di sana dapat bertemu, dan semua urusan ini dapat selesai. Namun kenyataan buruk kembali terulang, yang dicari tidak kunjung ada.

“Bapak lagi tidak ada di rumah, lagi ada di luar kota untuk urusan keluarga,” kata anak perempuan yang menemui kami. Saya tahu anak itu, adalah anak kandung dari dosen ketua bagian yang ingin kami temui.

* * *

Kenyataan ini hanya gambaran kecil, dari prosedur melelahkan dan kurangnya komitmen para pelayan masyarakat (publik service) dalam menjalankan kewajibannya.

Para pelayan masyarakat, telah di gaji bekerja dan melakukan pelayanan sesuai peraturan yang berlaku. Sementara masyarakat telah di pungut pajak dan membayar retribusi untuk digunakan membiayai pembangunan.

Begitu pula dengan kesadaran tenaga pengajar di kampus ini, sudah diangkat menjadi dosen, dan menerima gaji rutin. Sehingga dituntut mengajar mahasiswa, dan memberikan layanan akademik bagi yang menerima tugas tambahan sebagai pejabat.

Tetapi kesadaran itu tidak kunjung datang. Mohon maaf, terkesan tidak perduli dengan target mahasiswa untuk segera selesai dan memperoleh gelar sarjana. Akhirnya menelantarkan mahasiswa, seakan tidak memiliki beban moral melaksanakan kewajiban.

Padahal mahasiswa telah menyelesaikan kewajiban membayar uang SPP yang tidak sedikit, bahkan membayar pungutan lainnya. Dengan harapan, mendapatkan layanan pendidikan dan layanan administrasi secara maksimal untuk meningkatkan kualitas intelektual sebagai mahasiswa hingga menjadi sarjana.

Persoalan mahasiswa tidak belajar, karena tidak ada dosen yang mengajar, menjadi hal yang lumrah di fakultas ini. Lumrah, karena sering ditemui setiap hari. Sehingga wajar, kalau kebutuhan tenaga kerja dari kampus ini minim, bisa jadi karena kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Akibat interaksi proses pendidikan kurang berjalan maksimal.

* * *

Ketegasan dari pimpinan fakultas mencermati keadaan ini harus ada. Dengan mengeluarkan kebijakan dan menegur bawahannya yang tidak bekerja, bahkan terkesan makan “gaji buta”.

Memang tidak mudah memberhentikan tenaga pengajar yang telah diangkat atas nama negara. Tetapi proses dan penegakan aturan harus tetap jalan, dengan meninggalkan anasir-anasir subjektif atas pertimbangan kekeluargaan dan sahabat.

Bahkan terlihat pelayanan maksimal ditunjukkan oleh tenaga pendukung (honorer) yang memiliki komitmen tinggi dan loyalitas penyelesaian pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.

Bagi saya, untuk apa lagi dipertahankan tenaga pengajar yang tidak pernah naik kampus, apalagi mengajar di kelas. Sehingga perlu terobosan memberikan sanksi kalau perlu pemberhentian, dan diganti dengan tenaga yang lebih aktif dan inovatif.

Atas terobosan ini, kiranya dapat lahir sarjana-sarjana yang memiliki kemampuan handal di bidangnya. Agar kampus ini dapat keluar dari mitos, yakni mengeluarkan alumni tidak berkualitas.

Semoga, kesadaran tenaga pendidik di fakultas ini untuk maksimal menjalankan kewajiban, serta ada sistem yang dibangun Pimpinan dengan mengharuskan pegawai dan dosen aktif melaksanakan kewajibannya, segera terwujud.

Sehingga mahasiswa akan memiliki semangat baru, kemampuan intelektual yang handal. Semangat mencari ilmu dan pengetahuan di mana-pun berada, baik di dalam kampus maupun kegiatan ekstra kampus.

Cukuplah saya yang menghadapi jalan panjang pengurusan skripsi, dan tidak dialami lagi oleh generasi angkatan berikutnya. Semoga.

Pengajaran Fakultas Hukum Untad
Jumat, 16 Juni 2006

Orang Pintar

573 Views

ORANG PINTAR
Oleh : Ruslan Husen

“Antena televisi ini disetting ulang, agar siaran lebih banyak. Sekarang, empat siaran padahal  bisa dua belas siaran,” kata Arman mengeluarkan ide.

“Kakak, bisa setting ulang antena itu?” tanya Lisa, adik Arman.

“Ya, mencoba tidak ada salahnya. Semoga beruntung dan bisa bagus seperti dulu,” Arman menumbuhkan harapan.

“Iya kalau beruntung, tapi kalau tidak, malah menderita,” Timbal Lisa pesimis.

Arman dikenal anak pintar, banyak akalnya menyelesaikan masalah. Keberanian dan semangat menjadi senjata utama, termasuk memperbaiki siaran televisi yang rusak sejak bulan ini. Arman memberanikan diri berdasarkan perintah orang tuanya, yang ingin Arman mengusahakan televisi diperbaiki.

“Man, ambil kunci-kunci di kotak lemari, dan bawa kemari,” pinta Ayah Arman, memanggil.

“Iya, Ayah,” jawab Arman, sambil bergegas mencari dan membawakan kunci. Ayahnya menunggu di dekat antena televisi.

Keluarga ini, mulai penyetelan dengan arahan Arman. Sesekali juga ayah Arman menjadi pimpinan, karena memang yang paling tua dan dianggap paling tahu sesuatu.

Proses perbaikan berlanjut dengan dibantu Lisa. Lisa berperan melihat gambar di televisi. Sementara Arman dan Ayahnya menyetel antena di luar rumah. Sesekali muncul gambar siaran yang sebelumnya memang ada.

Prosesnya terus berjalan. Sesekali Lisa berteriak, “Belum ada gambar”. Ketika Arman atau Ayahnya menanyakan, “Apakah sudah ada gambarnya?

Hari semakin terik, entah berapa lama mereka mengerjakan antena. Memutar, menundukkan, atau mengangkat, tapi tidak juga memperoleh hasil yang diharapkan. Keringat mengucur dari pelipis dan dahi Arman, yang juga membasahi lengan dan bajunya.

Hingga mereka mulai lelah dan bosan. Tetapi stasiun yang diinginkan tidak kunjung membaik siarannya. Malah, gambar siaran yang dulunya ada, kini ikut-ikutan hilang. Jadilah televisi tanpa gambar, hanya semut hitam sinar listrik.

“Ah. Susah juga ya, menyetel siaran televisi ini,” keluh Ayah Arman.

“Diusahakan lagi, agar muncul empat stasiun televisi sebelumnya,” pinta Arman.

“Iya, dari pada begini, tidak ada yang bisa ditonton. Mendingan tidak diperbaiki tadi,” keluh Lisa dengan muka cemberut.

Akhirnya, susah payah mereka menyetel kembali antena televisi. Cukup rumit, dilakukan hati-hati dan perasaan tenang. Terdengar dering besi bergesek.

Penyetelan terus berlangsung. “Ya sudah. Sudah ada muncul satu stasiun. Tahan,” Teriak Lisa dari dalam rumah.

Penyetelan terus berlangsung, dengan hati-hati, “Kembali, ayo kembali, gambar sebelumnya hilang lagi,” kembali teriak Lisa.

Susah menyetel antena televisi. Hingga Ayah Arman menyerah dan pergi menjauh tidak mau terlibat lagi, sudah muncul rasa putus asa pada dirinya. Tinggal Arman berjuang mengembalikan siaran yang hilang. Dalam harapnya, cukup empat stasiun sebelumnya saja yang berhasil ditemukan, sudah cukup.

Ini akibat keberanian menyetujui ajakan Ayah melakukan penyetelan. Seandainya tidak mau, maka jelas hasilnya tidak seperti ini. Tapi semuanya sudah terlanjur, sekarang terpenting mengembalikan stasiun yang hilang. Pikir Arman dalam memutar dan mengarahkan antena.

Walhasil mereka tidak juga berhasi menemukan stasiun yang diinginkan, kini tinggal satu yang berhasil, sisanya hilang. Mereka pasrah dan tidak mengetahui harus berbuat apalagi.
“Nanti kita panggil orang pintar memperbaikinya. Keluar uang sedikit sebagai tanda jasa tidak apa-apa,” kata Arman menyerah.

Sepanjang siang, mereka menonton satu stasiun televisi saja. Sisanya gambar warna semut hitam tanpa gambar dan suara. Penyesalan dalam hati menyelimuti, tapi semua sudah terjadi. Tinggal menghadapi masalah.

Jadikan sebagai pelajaran, untuk tidak merasa pintar atas suatu masalah. Berikan penyelesaian masalah pada mereka yang ahli di bidangnya.

***

Manusia selalu berharap yang dilakukan memperoleh hasil maksimal. Keberanian menjadi senjata dan modal utama menyelesaikan permasalahan. Potensi kemanusiaan hendak dibina dan ditingkatkan dalam menyelesaikan problem kehidupan, melalui berbagai medium.

Penyelesaian persoalan, sepantasnya diberikan kepada orang yang menguasai ilmunya (ahli). Kerusakan dan kekacauan terjadi bila persoalan diurus yang bukan ahli. Itulah dinamika kehidupan, masing-masing individu membutuhkan manusia lain. Tidak ada insan, hidup dengan normal tanpa bantuan manusia lain. Manusia terpenuhi kebutuhannya, dengan bantuan dari orang lain.

Oleh karena itu, bertahan dan mempunyai kapasitas. Harus memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan. Artinya, perlu keahlian yang orang lain membutuhkan. Insan seperti ini yang bertahan. Kenapa sebagian saja orang yang bekerja di parlemen atau birokrasi pemerintah, karena memang Ia memiliki kemampuan dan potensi bekerja di tempat itu. Orang-orang yang tidak memiliki kapasitas akan tersingkir.

Gambaran ini bukan bermaksud menimbulkan klaster strata sosial hingga mengarah pada kesenjangan sosial. Tetapi minimal ini bisa menjadi tolak ukur dalam menumbuhkan potensi intelektual, emosional dan spiritual sebagai potensi yang dibutuhkan untuk manusia yang bertahan. Ini akan menjadi spirit dalam mengasah potensi yang ada pada diri setiap manusia.

Pendayagunaan dan peningkatan profesionalitas lembaga pendidikan agar memiliki visi dan strategi pendidikan yang humanis, jauh dari kesan kekerasan dan mengekang kebebasan potensi peserta didik. Serta reorientasi pemikiran, menempatkan lembaga pendidikan formal satu-satunya yang dapat menumbuhkan potensi, karena masih banyak lembaga non formal lain yang bisa digunakan sebagai medium itu.

Proses pengekangan potensi kemanusiaan dalam menjawab dan memenuhi tantangan zaman, akan menjadikan manusia itu ketinggalan dan tergilas oleh zaman. Ideologi sebagai satu-satunya pengarah daya pikir dan hukum dasar manusia bersikap, hendaknya dimaknai sebagai pendobrak kebekuan masyarakat yang stagnan. Jadi ideologi di pahami secara total dan menjadikan sebagai rel perjalanan hidup di setiap saat.

Pengarahan bahwa realitas keduniaan dapat menghilangkan tujuan dan makna hidup yang sebenarnya akibat pengaruh dari luar dirinya, merupakan bentuk kemunafikan. Lihatlah, katanya ia tidak membutuhkan dunia dengan segala aspek, sementara dia masih membutuhkan perumahan dan pakaian bahkan alat komunikasi dalam menghubungi rekan-rekannya. Sementara sarana itu bukan di peroleh dari dalam dirinya, melainkan pengaruh dari luar dan ia menggunakannya.

Memang manusia tidak dipisahkan dari perkembangan zaman. Perkembangan itu tetap di kontrol dan diarahkan kepada peradaban humanis. Tidak ada sikap pasif pada diri, dan selalu terlibat aktif sebagai aktor peradaban. Apabila tidak melakukan perlawanan dan menjauhkan diri seakan tidak mengakui realitas, maka kita sama halnya dengan keadaan yang terpuruk itu.

Pengerahan potensi dan sumber daya guna menjawab tuntunan zaman memang dibutuhkan. Selain penyadaran internal dalam diri dan kehidupan menjadi sesuatu yang urgen. Penyiapan diri sejak dini dengan mempelajari tanda-tanda di alam dengan melakukan pengkajian dan pendalaman keilmuan. Tidak bangkit menjadi umat yang merasa pintar dan serba tahu, tetapi sebenarnya tidak tahu sama sekali, hanya propaganda ditumbuhkan dalam menutupi kekurangan.

Maka bersiaplah menyambut perubahan zaman dengan bekal potensi kemanusiaan yakni kekuatan intelektual, emosional dan spiritual agar bisa mengarungi hidup dengan layak dan bermanfaat bagi sesama.

Pertengahan Siang
Tomoli, 18 Mei 2006